MAKALALAH AGAMA

Sabtu, 07 November 2015

makalah kriteria orang-orang yang beriman



Kriteria Orang-orang yang Beriman
Makalah
(diajukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah dasar pendidikan dalam Al-Quran)
Disusun Oleh kelompok 4:
Helmi Chandra: 2113. 146
Radianti Rahmah: 2113.158
Sisri Jayati: 2113. 165

Dosen Pembimbing:
Nurlizam, M.Ag
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH
 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
 SYECH M. DJAMIL DJAMBEK
BUKITTINGGI 2014












BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dalam surat Al-Anfal ayat sebelumnya atau ayat pertama itu membicarakan tentang harta rampasan perang (ghanimah) yang diperoleh kaum muslimin dalam perang badar, yaitu ketika terjadi perselisihan antara mereka tentang siapakah yang berhak memperolehnya,sampai-sampai terjadi perselisihan atau pertengkaran diantara kaum muslimin. Akhirnya harta rampasan itu dibagi sama rata oleh Rasul, dengan demikian terwujudlah ketaqwaan kepada Allah dan kepatuhan kepada Rasul-Nya.
Kemudian Allah SWT menyifati orang-orang yang beriman dengan lima sifat yang menunjukkan betapa wajibnya ketakwaan, memperbaiki hubungan, dan kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagai mana firman Allah SWT yang akan dijelaskan dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kriteria orang-orang yang beriman?
2.      Bagaimana penafsiran ayat surat al anfal 2-4?
3.      Apa nilai pembelajaran yang terdapat dalam surat al anfal 2-4?


C.    Tujuan

1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar pendidikan dalam Alquran.
2.      Untuk mengetahui kriteria orang yang beriman.
3.      Untuk mengetahui penafsiran ayat.
4.      Untuk mengetahui nilai pembelajaran yang terdapat dalam surat al anfal 2-4.


  

BAB II
PEMBAHASAN
Kriteria Orang yang Beriman

Q.S Al- Anfal (8): 2-4

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya: (2) sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah kuat imannya dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal.
(3) Yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.
(4) Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Penafsiran Kata-kata Sulit
ذُكِرَzukira adalah fiil madi mabni majhul yang berarti disebut. Ia terbentuk dari kata zakara- yazkuru- zikran. Kata zikr juga berarti menyebut dengan lisan, atau dengan hati, atau dengan keduanya. Al- Quran juga menggunakan kata zikr ini untuk makna keagungan dan kemuliaan, seperti yang terdapat dalam Surat Sad ayat 1 yang berbunyi:وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْر  artinya: demi Al-Quran yang mempunyai keagungan.
Penafsiran Ayat
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
Allah SWT menjelaskan bahwa sesungguhnya orang- orang yang benar-benar beriman, yang ikhlas dalam keimanan mereka adalah orang-orang yang memenuhi lima sifat sebagai berikut:[1]
1.      الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Menurut Mujahid dan As Suddi, kalimat وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْberarti rasa takut dan khawatir yang ada dalam hati mereka.
Orang-orang yang ingat kepada Allah dalam hati mereka, maka mereka merasa takut terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah, atau terhadap janji, ancaman dan perhitungan-Nya kelak terhadap hamba-hamba-Nya.
Bagian ayat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala Q. S Al-Hajj/22: 34-35 :        
                                                                                                                       
وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا                                                                                رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya: dan sampaikanlah (muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu orang- orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka gemetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang melaksanakan shalat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang kami karuniakan kepada mereka.

2.      وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi-Nya yang terakhir, maka bertambah yakinlah mereka dalam beriman, bertambah mantablah mereka dalam ketentraman dan bertambah semangat dalam beramal. Karena dengan semakin mantapnya bukti-bukti itu, yang satu mendukung yang lain dan hujjah yang satu memperkuat hujjah yang lain, maka menyebabkan semakin tambahnya keyakinan. Sebagai contoh disini adalah Nabi Ibrahim AS beliau sebenarnya telah beriman bahwa Allah kelak bakal membangkitkan kembali orang-orang mati, ketika beliau berdoa kepada Tuhan supaya berkenan memperlihatkan kepadanya bagaimana dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang telah mati itu. Maka bertanyalah Allah dengan firmannya:
أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
Artinya: belum percayakah engkau? Dia (Ibrahim) menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). (QS. Al-Baqarah/2: 260)
Jadi, derajat kemantapan hati dalam iman bisa bertambah kuat dan sempurna melebihi keimanan secara umum yang lebih rendah. Dalam hal ini ada suatu riwayat dari ali Al-Murtada, bahwa beliau mengatakan, andai kata hijab disingkapkan dariku, tentu aku semakin bertambah yakin.
Pengetahuan secara rinci dalam soal iman adalah lebih kuat pengaruhnya dari pada pengetahuan secara umum. Jadi, orang yang beriman bahwa Allah mempunyai ilmu meliputi segala pengetahuan dan mempunyai kebijaksanaan (hikmah) yang dengan itu menjadi teraturlah bumi dan langit dan rahmat yang meratai seluruh makhluk-Nya, tetapi pengetahuan orang tersebut mengenai hal itu hanyalah secara umum saja. Andaikan anda bertanya padanya supaya menerangkan kepada anda bukti-bukti yang ada pada alam ciptaan Tuhan ini ternyata dia tidak mampu. Iman orang seperti itu, tentu tak bisa dibandingkan dengan iman orang yang mempunyai pengetahuan secara rinci tentang sunah- sunah Allah pada alam semesta ini yang terdapat pada setiap jenis makhluk-Nya. Apalagi pada zaman sekarang ini ketika pengetahuan manusia sudah begitu luas tentang sunah-sunah Allah tersebut. Mereka mengerti tentang sunah-sunah Allah yang tak pernah terbetik sedikitpun dalam hati seorang ulama pada abad-abad lalu.
Yang semakna dengan bagian ayat ini, firman Allah ketika menyifati orang-orang yang tetap memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, meski telah mengalami luka pada perang uhud:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيل
Artinya: yaitu orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. (Ali Imran/3: 173)
Dan firman-Nya:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin, untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath/48: 4)


3.      وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Bahwa orang-orang yang benar-benar beriman itu bertawakal kepada Tuhan semata-mata, tanpa menyerahkan urusan mereka kepada selain Allah. Siapa saja yang yakin bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusannya dan segala urusan alam semesta ini dia tidak mungkin menyerahkan urusan-urusan itu sedikitpun kepada selain Allah.
Kalau syara’ dan akal telah memberi keputusan bahwa manusia dibolehkan melakukan usaha sebagai ikhtiyar yang merupakan kebenaran dari Allah supaya dia laksanakan dan bahwa Allah akan memberi balasan atas amalnya, amal baik dibalas baik dan amal buruk dibalas buruk, maka wajib manusia berusaha mengatur urusan dirinya sesuai dengan aturan yang telah diatur oleh Allah SWT.

4.      الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
(Yaitu) orang-orang yang menunaikan shalat dengan sempurna, baik mengenai gerak gerik dan rukun-rukun lahiriahnya yaitu berdiri, rukuk, sujud, bacaan-bacaan dan zikir-zikir, atau mengenai makna dan ruhnya yang bathiniah, seperti khusuk dan tunduk dalam bermunajat kepada Allah Yang maha rahman, memikirkan dan meresapi makna yang terkandung dalam bacaan Al-Quran yang dengan demikian maka akan diperoleh buah shalat, yaitu terhindarnya diri dari melakukan kekejian dan kemungkaran.

5.      وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون
Dan menafkahkan rezeki yang kami berikan kepada mereka untuk hal-hal yang baik, berupa zakat wajib atau nafkah-nafkah wajib dan sunah lainnya, kepada kaum kerabat dan orang-orang sengsara. Juga kepada kemaslahatan-kemaslahatan umat dan kepentingan-kepentingan umum, yang dengan itu maka derajat bangsa makin jaya ditengah bangsa-bangsa lainnya, karena terletak pada nafkah-nafkah seperti itulah kemajuan dan kemakmuran bangsa.
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut diatas itu sajalah, orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar beriman, sedang yang lain tidak. Dan keimanan seperti itu merupakan hasil dari sikap membenarkan disertai kepatuhan yang berpengaruh terhadap sikap-sikap hati atau tingkah laku anggota tubuh dan juga berbekas dalam soal pembelanjaan harta dijalan Allah.
At-Tabrani meriwayatkan dari Al-Haris bin Malik Al-Anshari ra. Bahwa ia pernah lewat dihadapan Rasulullah Saw. Maka beliau bertanya kepadanya, bagaimana keadaanmu pagi ini, hai Haris? Dia jawab, pagi ini saya menjadi orang mukmin yang sebenar-benarnya. Nabi bersabda: coba lihat apa yang kamu katakan itu! Sesungguhnya segala sesuatu ada faktanya. Apa fakta dari keimanan kamu itu? Jawab Al-Haris, nafsuku tidak menyukai dunia. Maka diwaktu malam saya tiada tidur (shalat), siang hari aku kehausan (berpuasa) seolah-olah aku melihat singgasana tuhanku begitu jelas dan seolah-olah aku melihat penghuni neraka menjerit-jerit disana. Maka sabda nabi sampai tiga kali, kau tahu. Maka teruskanlah!.[2]
Dan ada pula riwayat Al-Hasan, bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya, Benarkah anda mukmin? Maka jawab Al-Hasan, iman itu ada dua macam. Kalau anda menanyakan kepadaku tentang iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para Rasuk-Nya, hari kiamat, surga, neraka, kebangkitan dan hisab, memang saya ini mukmin. Akan tetapi kalau anda tanyakan tentang fiman Allah ta’ala, innamal mukminuunal laziina izaa zukirallahu......., maka demi Allah saya sendiri tidak tahu apakah saya ini tergolong orang-orang mukmin seperti itu atau tidak.
Dan setelah Allah menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang benar-benar mukmin, maka selanjutnya Dia menyebutkan pula pahala mereka disisi tuhan. Firman-Nya:                                
لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Mereka bakal memperoleh beberapa derajat kemuliaan dan kedudukan yang dekat disisi Allah yang tak bisa diperkirakan berapa ukurannya, yaitu kedudukan disisi Tuhan yang telah menciptakan mereka dengan sempurna, karena Dia maha kuasa memberi balasan atas amal mereka yang baik dinegeri pembalasan dan pemberian pahala itu. Dan Allahpun maha kuasa melebihkan sebagian manusia dan mengangkatnya atas sebagian yang lain, satu atau bebrapa derajat, baik didunia atau diakhirat kelak. Dan memang disisi Allah Ta’ala terdapat pahala, sebagaimana firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ
 وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya:  orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (At-Taubah/9: 20)


Dan firman Allah Ta’ala mengenai Rasul-rasul-Nya:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
artinya: rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang langsung Allah berfirman dengannya, dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. (Al-Baqarah/2: 253)
begitu pula orang-orang beriman seperti tersebut diatas itu bakal memperoleh ampunan dari Allah atas dosa-dosa mereka, sehingga mencapai derajat kesempurnaan. Dan mereka juga bakal mendapat rezeki yang mulia, yaitu kenikmatan surga yang telah disediakan untuk mereka.
Nilai-nilai pembelajaran yang terdapat dalam surat Al-Anfal 2-4 yaitu:
1.      Sikap mental orang-orang mukmin yang benar ialah mereka takut kepada Allah, ikhlas dan hanya bertawakal kepada Allah.
2.      Sikap mental mereka tampak dalam amalan mereka, seperti mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat.
3.      Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut adalah orang-orang yang benar-benar beriman yang dijanjikan Allah akan mendapat rezeki yang berlimpah serta pengampunan dan surg

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kriteria orang-orang yang beriman itu adalah:
1.      Apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka.
2.      Apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah keimanannya.
3.      Mereka bertawakal kepada Allah.
4.      Mereka mendirikan shalat.
5.      Mereka menginfakkan sebagian rezeki mereka.
Itulah orang-orang yang benar-benar beriman.


B.     Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan ataupun kesalahan. Maka dari itu kami mohon kritik dan saran dari sipembaca yang sifatnya membangun, agar kedepannya bisa lebih baik lagi.







DAFTAR PUSTAKA
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir Al-Maragi 9, Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Murakfury, Syaikh Shafiyurrahman. 2012. Tafsir Ibnu Katsir 3,Bandung: Sygma Creative Media Corp. 
Departemen Agama RI. 2009. Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Quran dan Terjemahannya, Bandung: CV penerbit Diponegoro.




[1]Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang:PT Karya Toha Putra, 1974), hal. 252
[2]Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury, Tafsir Ibnu Katsir 3, (Bandung: Sygma Creative Media Corp, 2012), hal.634

1 komentar:

  1. MGM National Harbor Casino & Hotel - Mapyro
    Find 경기도 출장안마 MGM National Harbor 고양 출장샵 Casino & Hotel, Las 여주 출장샵 Vegas, NV, United 광주 출장마사지 States, ratings, photos, prices, expert advice, traveler reviews and tips, and 강릉 출장마사지 more information from

    BalasHapus