Kriteria Orang-orang yang Beriman
Makalah
(diajukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah dasar pendidikan dalam Al-Quran)
Disusun Oleh kelompok 4:
Helmi Chandra: 2113. 146
Radianti Rahmah: 2113.158
Sisri Jayati: 2113. 165
Dosen Pembimbing:
Nurlizam, M.Ag
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SYECH M. DJAMIL DJAMBEK
BUKITTINGGI 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam surat
Al-Anfal ayat sebelumnya atau ayat pertama itu membicarakan tentang harta
rampasan perang (ghanimah) yang diperoleh kaum muslimin dalam perang badar,
yaitu ketika terjadi perselisihan antara mereka tentang siapakah yang berhak
memperolehnya,sampai-sampai terjadi perselisihan atau pertengkaran diantara
kaum muslimin. Akhirnya harta rampasan itu dibagi sama rata oleh Rasul, dengan
demikian terwujudlah ketaqwaan kepada Allah dan kepatuhan kepada Rasul-Nya.
Kemudian Allah
SWT menyifati orang-orang yang beriman dengan lima sifat yang menunjukkan
betapa wajibnya ketakwaan, memperbaiki hubungan, dan kepatuhan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Sebagai mana firman Allah SWT yang akan dijelaskan dalam makalah
ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kriteria orang-orang yang beriman?
2. Bagaimana penafsiran ayat surat al anfal 2-4?
3. Apa nilai pembelajaran yang terdapat dalam
surat al anfal 2-4?
C. Tujuan
1.
Untuk memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar pendidikan
dalam Alquran.
2.
Untuk mengetahui kriteria orang yang beriman.
3.
Untuk mengetahui penafsiran ayat.
4.
Untuk mengetahui nilai pembelajaran yang terdapat dalam
surat al anfal 2-4.
BAB II
PEMBAHASAN
Kriteria Orang yang Beriman
Q.S Al- Anfal (8): 2-4
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ
زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . الَّذِينَ يُقِيمُونَ
الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ
حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya: (2)
sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka
bertambah kuat imannya dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal.
(3) Yaitu
orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezki yang
kami berikan kepada mereka.
(4) Mereka
itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat
(tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.
Penafsiran
Kata-kata Sulit
ذُكِرَ
– zukira adalah fiil madi mabni majhul
yang berarti disebut. Ia terbentuk dari kata zakara- yazkuru- zikran.
Kata zikr juga berarti menyebut dengan lisan, atau dengan hati, atau
dengan keduanya. Al- Quran juga menggunakan kata zikr ini untuk makna keagungan
dan kemuliaan, seperti yang terdapat dalam Surat Sad ayat 1 yang berbunyi:وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْر artinya: demi Al-Quran
yang mempunyai keagungan.
Penafsiran
Ayat
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
Allah SWT
menjelaskan bahwa sesungguhnya orang- orang yang benar-benar beriman, yang
ikhlas dalam keimanan mereka adalah orang-orang yang memenuhi lima sifat
sebagai berikut:[1]
1.
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ
Menurut Mujahid dan As Suddi,
kalimat وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْberarti rasa takut dan khawatir
yang ada dalam hati mereka.
Orang-orang yang ingat kepada
Allah dalam hati mereka, maka mereka merasa takut terhadap kebesaran dan
kekuasaan Allah, atau terhadap janji, ancaman dan perhitungan-Nya kelak
terhadap hamba-hamba-Nya.
Bagian ayat ini semakna dengan
firman Allah Ta’ala Q. S Al-Hajj/22: 34-35 :
وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ
وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya: dan sampaikanlah
(muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),
yaitu orang- orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka gemetar, orang
yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang melaksanakan
shalat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang kami karuniakan kepada
mereka.
2.
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ
زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Dan apabila dibacakan kepada
mereka ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi-Nya yang terakhir, maka
bertambah yakinlah mereka dalam beriman, bertambah mantablah mereka dalam
ketentraman dan bertambah semangat dalam beramal. Karena dengan semakin
mantapnya bukti-bukti itu, yang satu mendukung yang lain dan hujjah yang satu
memperkuat hujjah yang lain, maka menyebabkan semakin tambahnya keyakinan.
Sebagai contoh disini adalah Nabi Ibrahim AS beliau sebenarnya telah beriman
bahwa Allah kelak bakal membangkitkan kembali orang-orang mati, ketika beliau
berdoa kepada Tuhan supaya berkenan memperlihatkan kepadanya bagaimana dia
menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang telah mati itu. Maka bertanyalah
Allah dengan firmannya:
أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ
لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
Artinya: belum percayakah
engkau? Dia (Ibrahim) menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang
(mantap). (QS. Al-Baqarah/2: 260)
Jadi, derajat kemantapan hati
dalam iman bisa bertambah kuat dan sempurna melebihi keimanan secara umum yang
lebih rendah. Dalam hal ini ada suatu riwayat dari ali Al-Murtada, bahwa beliau
mengatakan, andai kata hijab disingkapkan dariku, tentu aku semakin bertambah
yakin.
Pengetahuan secara rinci dalam
soal iman adalah lebih kuat pengaruhnya dari pada pengetahuan secara umum.
Jadi, orang yang beriman bahwa Allah mempunyai ilmu meliputi segala pengetahuan
dan mempunyai kebijaksanaan (hikmah) yang dengan itu menjadi teraturlah bumi
dan langit dan rahmat yang meratai seluruh makhluk-Nya, tetapi pengetahuan
orang tersebut mengenai hal itu hanyalah secara umum saja. Andaikan anda
bertanya padanya supaya menerangkan kepada anda bukti-bukti yang ada pada alam
ciptaan Tuhan ini ternyata dia tidak mampu. Iman orang seperti itu, tentu tak
bisa dibandingkan dengan iman orang yang mempunyai pengetahuan secara rinci
tentang sunah- sunah Allah pada alam semesta ini yang terdapat pada setiap
jenis makhluk-Nya. Apalagi pada zaman sekarang ini ketika pengetahuan manusia
sudah begitu luas tentang sunah-sunah Allah tersebut. Mereka mengerti tentang
sunah-sunah Allah yang tak pernah terbetik sedikitpun dalam hati seorang ulama
pada abad-abad lalu.
Yang semakna dengan bagian ayat
ini, firman Allah ketika menyifati orang-orang yang tetap memenuhi seruan Allah
dan rasul-Nya, meski telah mengalami luka pada perang uhud:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ
النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ
الْوَكِيل
Artinya: yaitu orang-orang
(yang mentaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan
kepadanya, orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang
kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat)
iman mereka dan mereka menjawab, cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami
dan Dia sebaik-baik pelindung. (Ali Imran/3: 173)
Dan firman-Nya:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي
قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
Artinya: Dialah yang telah
menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin, untuk menambah keimanan
atas keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath/48: 4)
3.
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Bahwa orang-orang yang
benar-benar beriman itu bertawakal kepada Tuhan semata-mata, tanpa menyerahkan
urusan mereka kepada selain Allah. Siapa saja yang yakin bahwa Allah-lah yang
mengatur segala urusannya dan segala urusan alam semesta ini dia tidak mungkin
menyerahkan urusan-urusan itu sedikitpun kepada selain Allah.
Kalau syara’ dan akal telah
memberi keputusan bahwa manusia dibolehkan melakukan usaha sebagai ikhtiyar yang
merupakan kebenaran dari Allah supaya dia laksanakan dan bahwa Allah akan
memberi balasan atas amalnya, amal baik dibalas baik dan amal buruk dibalas
buruk, maka wajib manusia berusaha mengatur urusan dirinya sesuai dengan aturan
yang telah diatur oleh Allah SWT.
4.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
(Yaitu) orang-orang yang
menunaikan shalat dengan sempurna, baik mengenai gerak gerik dan rukun-rukun
lahiriahnya yaitu berdiri, rukuk, sujud, bacaan-bacaan dan zikir-zikir, atau
mengenai makna dan ruhnya yang bathiniah, seperti khusuk dan tunduk dalam bermunajat
kepada Allah Yang maha rahman, memikirkan dan meresapi makna yang terkandung
dalam bacaan Al-Quran yang dengan demikian maka akan diperoleh buah shalat,
yaitu terhindarnya diri dari melakukan kekejian dan kemungkaran.
5.
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون
Dan menafkahkan rezeki yang kami
berikan kepada mereka untuk hal-hal yang baik, berupa zakat wajib atau
nafkah-nafkah wajib dan sunah lainnya, kepada kaum kerabat dan orang-orang
sengsara. Juga kepada kemaslahatan-kemaslahatan umat dan kepentingan-kepentingan
umum, yang dengan itu maka derajat bangsa makin jaya ditengah bangsa-bangsa
lainnya, karena terletak pada nafkah-nafkah seperti itulah kemajuan dan
kemakmuran bangsa.
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Orang-orang yang memiliki
sifat-sifat tersebut diatas itu sajalah, orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benar beriman, sedang yang lain tidak. Dan keimanan seperti itu
merupakan hasil dari sikap membenarkan disertai kepatuhan yang berpengaruh
terhadap sikap-sikap hati atau tingkah laku anggota tubuh dan juga berbekas
dalam soal pembelanjaan harta dijalan Allah.
At-Tabrani meriwayatkan dari
Al-Haris bin Malik Al-Anshari ra. Bahwa ia pernah lewat dihadapan Rasulullah
Saw. Maka beliau bertanya kepadanya, bagaimana keadaanmu pagi ini, hai Haris?
Dia jawab, pagi ini saya menjadi orang mukmin yang sebenar-benarnya. Nabi
bersabda: coba lihat apa yang kamu katakan itu! Sesungguhnya segala sesuatu ada
faktanya. Apa fakta dari keimanan kamu itu? Jawab Al-Haris, nafsuku tidak
menyukai dunia. Maka diwaktu malam saya tiada tidur (shalat), siang hari aku
kehausan (berpuasa) seolah-olah aku melihat singgasana tuhanku begitu jelas dan
seolah-olah aku melihat penghuni neraka menjerit-jerit disana. Maka sabda nabi
sampai tiga kali, kau tahu. Maka teruskanlah!.[2]
Dan ada pula riwayat Al-Hasan,
bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya, Benarkah anda mukmin? Maka jawab
Al-Hasan, iman itu ada dua macam. Kalau anda menanyakan kepadaku tentang iman
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para Rasuk-Nya, hari
kiamat, surga, neraka, kebangkitan dan hisab, memang saya ini mukmin. Akan
tetapi kalau anda tanyakan tentang fiman Allah ta’ala, innamal mukminuunal
laziina izaa zukirallahu......., maka demi Allah saya sendiri tidak tahu apakah
saya ini tergolong orang-orang mukmin seperti itu atau tidak.
Dan setelah Allah menyebutkan
sifat-sifat orang-orang yang benar-benar mukmin, maka selanjutnya Dia
menyebutkan pula pahala mereka disisi tuhan. Firman-Nya:
لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Mereka bakal memperoleh beberapa
derajat kemuliaan dan kedudukan yang dekat disisi Allah yang tak bisa
diperkirakan berapa ukurannya, yaitu kedudukan disisi Tuhan yang telah
menciptakan mereka dengan sempurna, karena Dia maha kuasa memberi balasan atas
amal mereka yang baik dinegeri pembalasan dan pemberian pahala itu. Dan
Allahpun maha kuasa melebihkan sebagian manusia dan mengangkatnya atas sebagian
yang lain, satu atau bebrapa derajat, baik didunia atau diakhirat kelak. Dan
memang disisi Allah Ta’ala terdapat pahala, sebagaimana firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ
اللَّهِ
وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad dijalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi
derajatnya disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.
(At-Taubah/9: 20)
Dan firman Allah Ta’ala mengenai
Rasul-rasul-Nya:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ
عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
artinya: rasul-rasul itu kami
lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang
langsung Allah berfirman dengannya, dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya
beberapa derajat. (Al-Baqarah/2: 253)
begitu pula orang-orang beriman
seperti tersebut diatas itu bakal memperoleh ampunan dari Allah atas dosa-dosa
mereka, sehingga mencapai derajat kesempurnaan. Dan mereka juga bakal mendapat
rezeki yang mulia, yaitu kenikmatan surga yang telah disediakan untuk mereka.
Nilai-nilai pembelajaran yang
terdapat dalam surat Al-Anfal 2-4 yaitu:
1.
Sikap mental
orang-orang mukmin yang benar ialah mereka takut kepada Allah, ikhlas dan hanya
bertawakal kepada Allah.
2.
Sikap mental mereka
tampak dalam amalan mereka, seperti mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat.
3.
Orang-orang yang
mempunyai sifat-sifat tersebut adalah orang-orang yang benar-benar beriman yang
dijanjikan Allah akan mendapat rezeki yang berlimpah serta pengampunan dan surg
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa kriteria orang-orang yang beriman itu adalah:
1. Apabila disebut nama Allah gemetar hati
mereka.
2. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah
keimanannya.
3. Mereka bertawakal kepada Allah.
4. Mereka mendirikan shalat.
5. Mereka menginfakkan sebagian rezeki mereka.
Itulah
orang-orang yang benar-benar beriman.
B.
Saran
Penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
ataupun kesalahan. Maka dari itu kami mohon kritik dan saran dari sipembaca
yang sifatnya membangun, agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir Al-Maragi 9,
Semarang: PT Karya Toha Putra.
Al-Murakfury, Syaikh Shafiyurrahman. 2012. Tafsir Ibnu
Katsir 3,Bandung: Sygma Creative Media Corp.
Departemen Agama RI. 2009. Al-Quran dan Tafsirnya,
Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Quran dan Terjemahannya,
Bandung: CV penerbit Diponegoro.
MGM National Harbor Casino & Hotel - Mapyro
BalasHapusFind 경기도 출장안마 MGM National Harbor 고양 출장샵 Casino & Hotel, Las 여주 출장샵 Vegas, NV, United 광주 출장마사지 States, ratings, photos, prices, expert advice, traveler reviews and tips, and 강릉 출장마사지 more information from